Pelacak Konten Negatif akhirnya mulai Menyala pada 3 Januari 2018

Pelacak Konten Negatif akhirnya mulai Menyala pada 3 Januari 2018

Jogjatronik.com, AIS atau mesin pengais konten negatif buatan Indonesia akhirnya telah selesai diujicoba oleh Kominfo. AIS dibuat memang nantinya digunakan untuk mengurangi penyebaran konten-konten negatif di internet, seperti pornografi, judi, kekerasan, radikalisme, dan SARA.

Semuel Abrijani Pangerapan (Dirjen Aptika Kominfo), menyampaikan ke publik bahwa AIS siap dioperasikan pada 03 Januari 2018. Tim khusus berjumlah 58 orang akan dibagi menjadi 3 Shift agar bisa menemani Ais selama 24jam/hari dan 7hari/minggu.

Informasi yang kami dapat, dalam satu kali usaha penjaringan, ternyata Ais mampu mendapatkan jutaan konten negatif dalam waktu kurang dari 10 menit. Selanjutnya, konten-konten negatif yang diprioritaskan karena dianggap paling membahayakan (baik dari segi koneten, jumlah viewer, sampai potensi viral) akan diuji oleh Tim Verifikator, untuk dianalisa apakah memang bertentangan dengan aturan yang berlaku di Indonesia atau tidak.

Sayangnya Ais baru bisa menemukan konten negatif di ranah internet publik saja, belum mampu mengawasi konten negatif yang berasal di akun media sosial yang disetel “private” apalagi di percakapan personal.

Sepintas cara yang dilakukan masih bersifat manual, karena ketika konten negatif tersebut tersaring, konten-konten lalu dipindai (screenshoot) secara manual sebagai bukti. T_T

Untungnya jika konten negatif tersebut berasal dari sebuah website/blog, pemerintah sudah SOP dalam bentuk jalur komunikasi tersinkronisasi dengan penyedia jasa internet (ISP/APJI). Kemudian APJII/ISP akan melakukan blok agar website tidak bisa mengudara lagi, tanpa perlu Hak Jawab beda jika website tersebut adalah website dari sebuah Portal Berita Resmi dalam lindungan Dewan Pers.

Bagaimana jika konten negatrif tersebut hanya berasal dari media sosial? Pemerintah ternyta sudah melakukan koordinasi dengan pengelola media sosial yang bersangkutan. Sudah ada sembilan layanan media sosial yang bekerja sama dengan Kominfo, yakni Facebook, Instagram, WhatsApp, Twitter, BBM, Line, Telegram, google, bahkan Bigo. Bigo..? ya tentu saja… anda paham kan kenapa Bigo juga harus diawasi pemerintah kan?

Ais nantinya bukan hanya dimanfaatkan oleh Kominfo saja, tapi juga bisa digunakan oleh lembaga-lembaga negara lain, seperti BNN, BPOM, Kepolisian, dan pihak manapun yang berkepentingan demi menjaga kesatuan negara.

Keterangan : Ais merupakan mesin karya PT INTI (Infustri Telekomunikasi) melalui lelang yang dibuka oleh Kominfo pada Agustus 2017 lalu. Ais awalnya memiliki nilai penawaran sebesar Rp 198 miliar yang kemudian dikoreksi menjadi Rp 194 miliar. Selain Ais, pemberantasan konten-konten negatif di internet sudah dilakukan jauh hari melalui website Trust Positif Kominfo.

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *